5 Pelajaran di Balik Kesuksesan Bisnis Cemilan Kekinian

Pada umumnya, camilan keripik singkong biasa dikaitkan dengan jajanan sederhana yang diproduksi secara rumahan dan tersedia di warung-warung. Namun, produk tradisional tersebut ternyata dapat dikembangkan menjadi objek dagang populer yang diincar oleh ramai, yaitu menjadi sebuah camilan kekinian.

Nggak percaya? Lihat saja produk keripik singkong kekinian seperti Maicih. Meskipun menawarkan produk tradisional seperti keripik singkong, merk ini bisa berkembang pesat dan mencapai omzet miliaran Rupiah, lho! Menggiurkan, bukan?

Ngomong-ngomong soal Maicih, sebenarnya, apa sih yang menjadikan produk dengan resep jadul ini begitu berkembang dan begitu disukai orang-orang? Yang lebih penting lagi, pelajaran apa saja ya yang bisa diambil dari kisah sukses merk ini bagi para pebisnis UMKM di bidang yang sama? Nah, supaya kamu juga bisa meningkatkan daya saing dan popularitas bisnismu seperti keripik gaul ini, yuk, simak taktik-taktik jitu yang dilakukan oleh Maicih!

Pelajaran Bisnis yang Bisa Diambil Dari Usaha Camilan Kekinian Maicih

1. Menjadi Solusi bagi Cita Rasa Penuh Nostalgia

Sumber Gambar: @infomaicih

Siapapun pasti pernah merasa ingin bernostalgia. Biasanya, perasaan semacam itu datang saat kita ingin mengingat kembali kenangan-kenangan menyenangkan di masa lalu, termasuk saat kita masih kecil. Salah satunya bisa jadi keinginan untuk mencicipi kembali camilan zaman dulu yang sering menemani hari-hari kita di kala bermain, termasuk keripik singkong yang sering kita temui di warung-warung.

Tapi, sekarang, mendapatkan keriping singkong nggak lagi semudah dulu, terutama bagi orang-orang yang hidup dan beraktivitas di kota-kota besar. Nah, permasalahan inilah yang diselesaikan oleh Maicih dengan menyediakan produk keripik singkong secara online. Dengan menambahkan nilai kemudahan pembelian pada produk tradisional ini, Maicih jadi lebih unggul di pasar dan dapat memenuhi kebutuhan para konsumen yang lagi ingin bernostalgia.

Walaupun terkesan sederhana, keputusan untuk menjual produk secara online sebenarnya sejalan dengan perkembangan trend usaha di Indonesia, lho! Berdasarkan data dari Bank Indonesia, bila dibandingkan dengan tahun 2015, angka transaksi online di tahun 2016 meningkat 400% dan mencapai angka Rp.17,8 trilyun. Sementara itu, angka transaksi online pada bulan Agustus tahun 2017 sudah mencapai angka Rp.13,8 trilyun. Tentunya, dengan begitu banyak potensi keuntungan di ranah penjualan online, ide untuk mengembangkan usaha melalui sarana online jadi amat memungkinkan.

2. Memanfaatkan Fenomena Media Sosial dan Marketing dari Mulut ke Mulut

Sumber: Kevin Anggara

Sudah ada banyak contoh usaha yang sukses karena memanfaatkan media online untuk berbisnis. Tapi, nilai tambah tersebut bisa diperkuat lagi bila dikombinasikan dengan strategi lainnya. Salah satu taktik kunci Maicih adalah memanfaatkan media sosial yang ramai digunakan anak muda untuk memasarkannya sebagai camilan kekinian.

Dengan lebih dari 100 juta pengguna internet di Indonesia, media sosial merupakan hal yang nggak bisa lepas dari kehidupan anak muda. Mulai dari aplikasi chatting seperti WhatsApp, situs video seperti YouTube, hingga jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter, semua digunakan untuk berbagai keperluan berbagi kabar dan berita. Melalui dunia media sosial ini pula, kabar mengenai suatu produk ataupun usaha dapat tersebar dengan cepat.

Memang, media sosial adalah tempat untuk memasarkan produk secara cuma-cuma. Namun, kalau kamu ingin produkmu dipasarkan secara gratis oleh para pengguna internet, kamu juga harus bisa menciptakan suatu fenomena yang menarik untuk dibicarakan pula! Maicih melihat peluang tersebut dan memanfaatkannya dengan menyediakan keripik singkong dengan berbagai tingkat kepedasan, sehingga empuk banget jadi sasaran perbincangan orang-orang.

Sumber Gambar: Michelle Hendra

Soal tingkat kepedasan yang fenomenal ini, awalnya, Maicih memiliki tingkat kepedasan dari 1 sampai 5 dan tingkat kepedasan 10. Lompatan signifikan pada tingkat kepedasan tersebut ternyata menjadikan Maicih cukup populer lho di media sosial! Lihat saja banyaknya video “Maicih Challenge” yang diunggah ke YouTube. Mulai dari YouTuber asal Indonesia, hingga YouTuber dari luar negeri, semua mendokumentasikan reaksi mereka ketika mencoba keripik Maicih level 10! Gak heran deh kalau akhirnya Maicih bisa menjadi camilan kekinian walaupun hanya bermodal keripik singkong pada awalnya.

Melihat fenomena tersebut, kita bisa mempelajari bahwa kalau kita bisa menambahkan fitur mengejutkan pada suatu produk, bahkan produk tradisional seperti keripik singkong, hal itu bisa membuat produk tersebut menjadi populer dan banyak dibicarakan orang, terutama kalangan muda yang sering tertarik dengan sesuatu yang berbau ‘nyentrik’! Jadi, bila kamu punya suatu ide unik untuk produkmu, jangan ragu-ragu untuk melaksanakannya! Apalagi kalau ide tersebut sesuai dengan selera target pasar!

3. Melayani Konsumen Offline dengan Cara Menarik Pula

Sumber Gambar: Blog Maicih Medan

Meskipun potensi di pasar online itu terbilang cukup signifikan, kamu tidak boleh meremehkan potensi di pasar retail! Apalagi kalau sudah berbicara soal makanan ringan dan jajanan pasar,hal ini nggak bisa dilewatkan. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar orang masih membeli produk sehari-hari, seperti camilan, melalui toko-toko yang dapat dikunjungi secara langsung.

Nah, hal yang sama juga disadari oleh usaha Maicih. Tapi, sekali lagi Maicih memainkan strategi unik yang memperkuat pemasaran produknya. Alih-alih memasarkan produknya di warung-warung, supermarket, ataupun toko lainnya, Maicih dapat dibeli secara langsung melalui mobil para agen yang berkeliaran ke mana-mana!

Bila dilihat secara sekilas, lokasi dan tempat penjualan yang nggak pasti dan senantiasa berubah malah terkesan melukai bisnis. Bagaimanapun juga, pelanggan jadi sulit mencari produk dan hanya dapat membelinya kalau kebetulan ketemu saja. Pemikiran itu memang benar! Tapi, keputusan tersebut masih sejalan dengan taktik Maicih untuk menciptakan fenomena yang dapat menjadi bahan pembicaraan.

Selain itu, ada juga keuntungan tersendiri di balik lokasi penjualan yang ireguler. Karena kesulitan ekstra untuk mendapatkannya, para pelanggan dapat mengembangkan opini bahwa produk Maicih itu langka dan tidak akan ragu-ragu untuk memborong ketika menemukannya. Kesan seperti itu nggak akan muncul kalau produk Maicih selalu terlihat ketika pelanggan pergi ke supermarket ataupun warung.

Sebenarnya, prinsip pemasaran dengan taktik menciptakan kesan langka pada produk adalah hal yang cukup lazim. Ada banyak cara yang dilakukan usaha lain untuk menciptakan kesan langka. Mulai dari membatasi jumlah produk (limited edition), membatasi kelompok pembeli, hingga secara sengaja hanya menaruh produk dalam jumlah sedikit di etalase toko. Namun, berbeda dengan contoh di atas, Maicih berhasil menggunakan taktik tersebut dengan cara yang unik.

4. Perkuat Agen yang Berperan Aktif di Lapangan

Sumber Gambar: Merliyani Pertiwi

Bicara soal penjualan secara offline, para agen yang memasarkan produk di lapangan itu memiliki peran penting, lho! Dalam usaha Maicih sendiri, orang-orang yang ingin menjadi agen Maicih harus datang ke Bandung untuk melakukan wawancara dan mengikuti pelatihan. Untuk menambah prestise, para agen Maicih pun juga memiliki istilah tersendiri, yaitu ‘Jendra’! Wah, keren dan unik, ya!

Salah satu tokoh pendiri Maicih, Reza Nurhilman mengungkapkan bahwa orang-orang yang ingin menjadi Jendral harus dilatih pada bidang team work, inovasi, character building, dan berbagai keahlian soft skill lainnya. Reza juga menyimpulkan bahwa, “Pendeknya, para calon Jendral harus mampu menjadi independent bussiness owner.”

Bila melihat kasus usaha Maicih, para Jendral di lapangan ini berakhir melakukan berbagai usaha pemasaran secara independen. Mulai dari aktif di Twitter untuk menginfokan lokasi berjualan mereka yang terus berpindah-pindah, sampai berkoordinasi dengan acara radio lokal untuk membuat acara talkshow bertema Maicih!

5. Selalu Perluas Produk Sesuai dengan Perkembangan!

Sumber Gambar: Qoo10

Dengan taktik-taktik di atas, Maicih dapat menjual produk sederhana keripik singkong hingga ramai dibicarakan, terkenal, dan dapat menghasilkan keuntungan besar. Namun, keunggulan produk apapun di pasar nggak akan bertahan lama kalau didiamkan begitu saja. Perlahan-lahan, pelanggan juga akan merasa jenuh dengan produk dan tampilan yang itu-itu saja.

Nah, meskipun dulu Maicih hanya dijual dengan kemasan plastik sederhana, setelah memiliki lebih banyak modal, para pendiri Maicih mulai meluncurkan Maicih dengan kemasan yang lebih menarik, dan bahkan terlihat berkelas sehingga menjadi camilan kekinian. Di luar itu, Maicih juga memperluas produknya. Sekarang ini mereka tidak hanya sekedar menjual keripik singkong, tapi juga mie, stik kentang, makaroni, batagor instan, dan produk camilan lainnya. Tentunya, seluruh produk tersebut juga masih dikeluarkan dengan variasi tingkat kepedasan, sebagai nilai unik awal yang membuat Maicih terkenal.

Nah, hal ini juga bisa dijadikan pelajaran bagi pelaku bisnis yang ingin mengembangkan usahanya! Jangan ragu untuk menciptakan variasi baru dari produk dan jangan lupa untuk menggabungkan varian tersebut dengan ciri khas produk asli yang sudah sukses.


Wah, walaupun hanya dimulai soal camilan tradisional yang sederhana, Maicih mampu melaksanakan berbagai taktik bisnis dan menjadikan produknya camilan kekinian. Jangan mau kalah ya dengan Maicih! Apalagi setelah sekarang kamu tahu pelajaran-pelajaran bisnis yang bisa diambil dari melambungnya usaha camilan kekinian tersebut!

Kalau dipikir-pikir, banyak juga ya pelajaran bisnis yang bisa diambil hanya dari studi satu kasus usaha saja. Nah, kalau kamu masih penasaran dan menginginkan lebih banyak pelajaran bisnis lainnya yang berguna dalam memulai usaha, simak juga artikel-artikel lain di Blog MataPanda. Yuk, rencanakan langkah-langkah taktismu mulai dari sekarang juga!

bisnis cemilanpeluang usaha
Comments (0)
Add Comment